THANK YOU TO ALL MY FOLLOWERS

Friday, February 15, 2013

Penjaja Bakso Yang Patut DiContohi


Googles2 dapat 
Sedutan citer indon pulak...

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,…terdengar suara tek…tekk.. .tek…suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak – anak, siapa yang mau bakso ?

“Mauuuuuuuuu. …”, secara serempak dan kompak anak – anak asuhku menjawab.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. …

Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya
membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.

“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang – uang itu Emang pisahkan? Barangkali ada tujuan ?” “Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurnaan iman “.

“Maksudnya.. …?”, saya melanjutkan bertanya.

“Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :

1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari – hari Emang dan keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.

Hatiku sangat…… …..sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : “Iya memang bagus…, tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya….”.

Ia menjawab, ” Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.

Definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita”.

“Masya Allah…, sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso”.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Arwah nenek saudara auntie di Junjung, Kedah 
dulu2 masa auntie kecik2, pernah arwah bercerita
Dia seorang penoreh getah di kebunnya sendiri
dan juga dengan jualan daun sireh yang ditanam sendiri
dapat menunaikan Ibadah Haji dengan kapal air ketika itu..
sebulan perjalanan pergi, sebulan ibadah haji di tanah suci dan sebulan perjalanan pulang..
3 bulan lamanya mereka meninggalkan sanak saudara dan kampung halaman
Alfatihah kepada Tok Cik..



13 comments:

  1. harap harap kita boleh mengikuti contoh yang ditunjukkan oleh penjual bakso itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam pB,

      Betul..kalau semua ada sikap macam tuh, tiada sebab untuk mengumpul duit utk jemputan Allah menunaikan rukun yang kelima.
      SubhanAllah

      Delete
  2. Assalamualaikum Auntie

    patut dicontohi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikumusallam Warahmatullahi Wabarakatuh atuk,

      Betul..tekat dan usaha diri sendiri

      Delete
  3. Kagum dengan penjaja Bakso itu.
    Dan betul, makayah saya dulu pun, pi Mekah sampai 3 bulan, naik kapal laut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam AA,

      Auntie dah lupa bilakah kapal air terakhir. Rasanya pertengahan tahun 70'an.

      Delete
  4. kita perlukan kesedaran sebegini. namun kini, kita alpa dan lupa. itu yang buatkan kita hanya fikir hal dunia. terima kasih puan. harap dapat beri lagi kesedaran pada kita semua.

    satu lagi, terharu membaca hal cucu puan. muga diberi kesedaran kepada mereka dan kekuatan pada puan sekeluarga.

    saya juga punya 2 cucu. terfikir juga jika ini berlaku. memang pilu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam DrNotts,

      Nyatalah memang ramai yang alpa utk berusaha, baik yg kaya apa tah lagilah yang tak berduit.

      Kata2 yang menjadi alasan 'Belum ada seru'

      Memang benar jika belum ada jemputan dari Allah memang tidak mungkin sampai, tapi sifat penjual bakso ini adalah tanda adanya pasang niat utk kesana.

      Delete
  5. Semuga cerita ini dapat dijadi kan contoh buat kita semua...terima kaseh kak.

    ReplyDelete
  6. salam aunty,
    apa khabar hari ni?
    terima kasih untuk perkongsian ni.
    Entry yang sangat membuka minda dan memberi kesedaran pada diri saya.Semoga saya mampu mencontohi 'si tukang bakso' ini juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam Kembali fathen,

      Alhamdulillah keadaan kesihatan sedikit berasa sihat.

      Sama2 kasih, ada kemahuan utk sesuatu hajat dan melaksanakan utk ke rukan yang kelima adalah murni, panggilan kesana Allah swt yg menentukannya..InshaaALLAH

      Delete
  7. byk pengajaran dr cerita ini

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...